11

faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas, kuantitas dan susunan susu sapi perah

Posted by sellyr06 on 18 Juli 2010 in Academic |

Lanjut dari artikel sebelumnya (Perencanaan Usaha Peternakan Sapi Perah), faktor penting lain adalah mengetahui faktor2 yg mempengaruhi kualitas, kuantitas dan susunan susu sapi perah.

Adapun faktor2 tersebut adalah:
1. Bangsa Sapi
Setiap bangsa sapi mempunyai sifat yang berbeda-beda dalam menghasilkan susu, kadar lemak dan warna susu. Jumlah susu yang dihasilkan bangsa sapi Fries Holland (FH) tertinggi jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa sapi perah lainnya, baik di daerah beriklim sedang maupun di daerah tropis.

2. Lama Bunting
Sapi yang telah dikawinkan dan bunting akan menghasilkan susu lebih sedikit daripada sapi yang tidak bunting. Lama bunting sapi perah adalah sembilan bulan. Produksi susu akan semakin menurun terutama saat sapi bunting tujuh bulan sampai beranak. Dengan demikian, kebuntingan mempunyai pengaruh yang tidak langsung terhadap produksi susu.

3. Masa Laktasi
Masa laktasi adalah masa sapi sedang menghasilkan susu yakni selama 10 bulan antara saat beranak dan masa kering. Produksi susu per hari mulai menurun setelah laktasi dua bulan.

4. Besar Sapi
Sapi-sapi yang memiliki badan yang besar akan menghasilkan susu yang lebih banyak daripada sapi-sapi yang berbadan kecil meskipun bangsa dan umurnya sama. Hal ini disebabkan sapi yang bedannya besar akan makan lebih banyak sehingga menghasilkan susu yang lebih banyak.

5. Birahi
Saat sapi mengalami birahi akan terjadi perubahan-perubahan faali yang mempengaruhi volume dan kualitas susu yang dihasilkan. Sapi akan menunjukkan gejala gelisah dan mudah terkejut sehingga tidak mau makan dan produksi susu menurun.

6. Umur Sapi
Sapi-sapi yang beranak pada umur yang lebih tua yaitu dua tahun, akan menghasilkan susu yang lebih banyak dari pada sapi-sapi yang beranak pada umur muda. Produksi susu akan terus meningkat dengan bertambahnya umur sapi hingga umur enam tahun. Setelah umur enam tahun produksi susu akan menurun sedikit demi sedikit, sampai sapi berumur 11 tahun. Hal ini disebabkan kondisi tubuh yang telah menurun dan ketuaan.

7. Selang Beranak
Selang beranak yang optimal adalah satu tahun. Jika selang beranak diperpendek akan menurunkan produksi susu sebesar 3,5 hingga sembilan persen pada laktasi yang sedang berjalan.

8. Masa Kering
Produksi susu pada laktasi kedua dan berikutnya dipengaruhi oleh lamanya masa kering sebelumnya. Setiap sapi betina, produksi susu akan naik dengan bertambahnya masa kering sampai tujuh hingga delapan minggu.

9. Frekuensi Pemerahan
Umumnya sapi diperah dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Pemerahan yang dilakukan lebih dari dua kali sehari biasanya dilakukan terhadap sapi-sapi yang berproduksi tinggi. Untuk sapi yang berproduksi 20 liter susu per hari dapat diperah tiga kali sehari, sedangkan sapi yang berproduksi 25 liter susu atau lebih dapat diperah empat kali sehari. Peningkatan produksi susu akibat adanya pengaruh hormon prolaktin yang lebih banyak dihasilkan pada sapi yang diperah empat kali.

10. Tata Laksana Pemberian Pakan
Variasi dalam produksi susu pada beberapa peternakan sapi perah disebabkan perbedaan dalam tata laksana pemberian pakan. Pakan yang terlalu banyak konsentrat akan menyebabkan kadar lemak yang terkandung dalam susu rendah, sedangkan pakan yang terlalu banyak berupa hijauan menyebabkan kadar lemak susu tinggi karena lemak susu tergantung dari kandungan serat kasar yang terdapat dalam pakan.

semoga bermanfaat :)

3

Perencanaan Usaha Peternakan Sapi Perah

Posted by sellyr06 on 18 Juli 2010 in Academic |

Faktor terpenting untuk usaha sukses dalam peternakan sapi perah adalah peternaknya sendiri (Sudono 2002).

Peternak harus mengetahui bagaimana usaha peternakan dan bagaimana penanaman modal untuk usaha peternakan, serta dapat menentukan keuntungan-keuntungan apa yang didapat untuk tiap-tiap investasi.

Peternak harus dapat menggabungkan tata laksana yang baik dan menentukan lokasi peternakan yang baik, besarnya usaha peternakan, sapi-sapi yang diproduksi tinggi, pemakaian peralatan yang tepat, lahan yang subur atau sesuai untuk tanaman hijauan serta pemasaran yang baik.

Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pengusahaan sapi perah menurut Sudono (2002), yaitu:

1. Mencari pemasaran yang baik
Dalam mendapatkan keuntungan yang baik dari penjualan susu, maka peternak harus mencari tempat dimana pengangkutan mudah atau mudah menyalurkan susu yang dihasilkan secara ekonomis dan cepat karena susu cepat atau mudah rusak.

2. Lahan dan air
Tipe lahan dimana peternakan akan didirikan merupakan hal yang penting dan harus diselidiki tingkat kesuburan lahan tersebut. Pada dasarnya lahan yang baik dapat ditingkatkan kesuburannya, tetapi lahan yang buruk tidak dapat atau sulit untuk ditingkatkan. Disamping itu tipologi iklim yaitu curah hujan dan temperatur perlu diperhatikan. Hal penting yang tak dapat diabaikan adalah tersedianya air bersih dalam jumlah yang banyak, karena peternakan sapi perah membutuhkan air untuk minum, pembersihan kandang dan kamar susu. Untuk setiap liter susu yang dihasilkan sapi membutuhkan air minum sebanyak 3,5 – 4 liter.

3. Besarnya usaha peternakan
Besarnya usaha peternakan sapi perah tergantung daripada luas lahan yang tersedia dan daerah dimana peternak tersebut didirikan. Di Indonesia, sekitar kota-kota besar rata-rata sapi yang diperah 25 ekor, sedangkan di daerah pegunungan rata-rata sapi yang diperah 75 ekor per peternakan. Pemeliharan yang baik dan penambahan jumlah sapi yang diperah dalam suatu peternakan pada umumnya akan meningkatkan efisiensi perusahaan.

4. Tenaga kerja
Usaha peternakan pada saat sekarang harus memiliki tenaga yang terampil dan berpengalaman, karena itu diperlukan fasilitas perumahan untuk dapat menarik tenaga tersebut dan bekerja dengan baik pada peternakan.

5. Sapi yang berproduksi tinggi
Walaupun perhatian banyak dicurahkan pada efisiensi penggunaan lahan dan tenaga kerja, tetapi produksi susu yang tinggi setiap sapi masih merupakan faktor yang sangat penting. Hendaknya sapi-sapi berproduksi tinggi yang seragam, jangan bervariasi karena usaha peternakan dengan produksi tinggi dan merata yang menggunakan penjantan-penjantan unggul akan menghasilkan produksi susu yang dapat ditingkatkan dan dipertahankan dari generasi ke generasi.

6. Penggunaan tanaman pakan ternak
Penggunaan tanaman pakan yang diproduksi sendiri perlu dimaksimumkan, karena itu usaha peternakan sapi perah sangat memerlukan lahan untuk ditanami tanaman pakan ternak. Efisiensi produksi tergantung pada cara pemberian makanan yang ekonomis dan pakan hijauan yang diharuskan berasal dari tanaman sendiri sedangkan pakan konsentrat dibeli dari luar.

Dalam melakukan kegiatan pengusahaan sapi perah, setelah melakukan perencanaan pada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam pelaksanaannya, perlu juga diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas, kuantitas dan sususan susu sapi perah yang dihasilkan oleh sapi perah karena pada setiap pemerahan hasil susu yang dihasilkan akan sangat bervariasi.

semoga bermanfaat :)

5

Mengenal Kewirausahaan, Wirausaha, Wirausahawan

Posted by sellyr06 on 18 Juli 2010 in Academic |

Kita tentu sering mendengar tentang kata “Wirausaha”, “Kewirausahaan” maupun “Wirausahawan”

Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses.

Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki emauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.

Seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan mengaplikasikan hakekat Kewirausahaan dalam hidupnya. Orang-orang yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya.

Secara epistimologis, sebenarnya kewirausahaan hakikatnya adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat dan kiat dalam menghadapi tantangan hidup. Seorang wirausahawan tidak hanya dapat berencana, berkata-kata tetapi juga berbuat, merealisasikan rencana-rencana dalam pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada sukses.

Dengan demikian inti dari Kewirausahaan adalah kemampuan menggerakkan orang lain serta dirinya dan berbagai sumber daya untuk berkreasi, mengembangkan dan menerapkan solusi terhadap berbagai masalah untuk memenuhi kebutuhan kita.

Seorang yang berjiwa wirausaha adalah orang yang :
o Kreatif
o Pionir
o Inovatif
o Pemberani
o Bermotivasi tinggi
o Percaya Diri
o Jeli membaca peluang
o Fleksibel
o Beretos kerja tinggi
o Tidak mudah menyerah.

Untuk menjadi wirausahawan yang sukses, tidak hanya sekedar mengharapkan adanya suatu keberuntungan, namun sangat tergantung dari kualitas usaha.
Usaha adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perseorangan atau kelompok untuk mendapatkan penghasilan dengan tujuan untuk mendapatkan laba atau keuntungan.

Dewasa ini Wirausaha merupakan tujuan yang sangat penting karena kesempatan/peluang untuk berusaha semakin hari semakin terbuka. Dengan menjadi seorang wirausahawan maka kita telah memberikan andil yang sangat besar untuk mengurangi jumlah pengangguran di negeri ini.

Dengan menjadi berwirausaha tentu kita akan memiliki banyak keuntungan diantaranya :
1. Tidak bekerja dibawah perintah orang lain
2. Bekerja sesuai dengan keinginan sendiri
3. Meningkatkan martabat danpengakuan diri
4. Mempunyai kendali terhadap kehidupan sendiri
5. kreatif dan dapat menyumbangkan sesuatu kepada orang lain

Hal itu tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan posisi kita jika kita bekerja menjadi karyawan/pegawai. Menjadi karyawan/pegawai bagi orang lain tentunya kita akan berada dalam perintah orang lain yang menghadapi banyak masalah diantaranya :
1. Bekerja over time
2. Tidak bisa libur/istirahat sesuai dengan keinginan kita
3. Memikul resiko terhadap tabungan pribadi kita
4. Pendapatan yang diterima relatif tetap
5. Terkadang harus mengerjakan pekerjaan yang tidak disukai.

Dari hal tersebut jelas maka menjadi seorang wirausahawan memiliki keunggulan dari pada menjadi karyawan. Seorang wirausahawan akan berhasil, melalui kerja keras dan keterampilan dalam menjalankan usaha.

Sedangkan kualitas usaha yang akan kita lakukan tergantung kepada 3 aspek yaitu :
1. Ide Usaha
2. Kapabilitas dalam wirausaha
3. Dana Usaha

Tiga aspek tersebut dapat dijabarkan dalam 10 langkah dalam wirausaha yaitu sebagai berikut :
• Langkah ke 1 Menyiapkan Ide Usaha,
• Langkah ke 2 Mengkaji Kelayakan Gagasan Usaha,
• Langkah ke 3 Menyiapkan Tim usaha,
• Langkah ke 4 Menyusun Rencana Usaha,
• Langkah ke 5 Pendanaan Usaha,
• Lankah ke 6 Mengelola Usaha,
• Langkah ke 7 Mengembangkan Produk,
• Langkah ke 8 Promosi dan Pemsaran,
• Langkah ke 9 Sales dan Penjualan
• Langkah ke 10 Mempertahankan usaha

Semoga dapat menginspirasi anda untuk menjadi seorang wirausahawan,, go entrepreneur indonesia :)

2

Teknik Pembuatan Biogas

Posted by sellyr06 on 16 Juli 2010 in Academic |

Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas. Proses pembentukan biogas dalam reaktor berbahan semen model tetap kontinu akan memulai beberapa tahapan sebagai berikut (Wahyuni 2009) :

1. Menampung kotoran sapi di Bak Penampung Sementara
Kotoran sapi yang bercampur dengan air cucian kandang ditampung di dalam bak penampung sementara. Bak penampung sementara ini berfungsi untuk menghomogenkan bahan masukan.

2.Mengalirkan kotoran sapi ke reaktor
Lumpur kotoran sapi dialirkan ke reaktor melalui lubang pemasukan. Pada pengisian pertama, kran pengeluaran gas yang ada dipuncak kubah sebaiknya tidak disambungkan dulu ke pipa. Kran tersebut dibuka agar udara dalam reaktor terdesak keluar sehingga proses pemasukan lumpur kotoran sapi lebih mudah.

3. Menambahkan starter
Pada pemasukan pertama diperlukan lumpur kotoran sapi dalam jumlah banyak sampai lubang reaktor terisi penuh. Untuk membangkitkan proses fermentasi bakteri anaerob pada pengisian pertama perlu menambahkan starter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak lima karung untuk kapasitas digester 3,5-5,0 m3.

4. Membuang gas yang pertama dihasilkan
Hingga hari ke delapan, kran yang ada di atas kubah dibuka dan gasnya dibuang. Pembuangan ini disebabkan gas awal yang terbentuk didominasi CO2. Pada hari ke-10 hingga hari ke-14 pembentukan gas CH4 54 persen dan CO2 27 persen maka biogas akan menyala. Selanjutnya, biogas dapat dimanfaatkan untuk menyalakan kompor gas di dapur.

5. Memanfaatat biogas yang sudah jadi
Pada hari ke-14, gas sudah mulai terbentuk dan bisa digunakan untuk menghidupkan nyala api pada kompor. Mulai hari ke-14 kita sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti kotoran sapi. Selanjutnya, reaktor terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga dihasilkan biogas yang optimal. Proses pembuatan biogas juga menghasilkan sisa buangan lumpur yang digunakan sebagai pupuk organik.

18

Sejarah Perkembangan Biogas

Posted by sellyr06 on 16 Juli 2010 in Academic |

Biogas merupakan suatu campuran gas-gas yang dihasilkan dari suatu proses fermentasi bahan organik oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen (Prihandana & Hendroko 2008). Biogas juga merupakan gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran manusia, jerami, sekam, dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Proses metanisasi menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos (Hambali 2007).

Pada awal perkembangan biogas, Kebudayaan Mesir, Cina dan Roma kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam dengan cara dibakar untuk menghasilkan panas. Sejarah penemuan proses anaerobik digestion untuk menghasilkan biogas tersebar di benua Eropa. Penemuan ilmuwan Volta terhadap gas yang dikeluarkan di rawa-rawa terjadi pada tahun 1770, beberapa dekade kemudian Avogadro mengidentifikasikan tentang gas metana. Setelah tahun 1875, dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari proses anaerobik digestion. Tahun 1884 Pasteour melakukan penelitian tentang biogas menggunakan kotoran hewan. Era penelitian Pasteour menjadi landasan untuk penelitian biogas hingga saat ini .

Sejak tahun 1975, instalasi biogas mulai diperkenalkan di Cina. Cina memiliki biogas dengan skala rumah tangga dan telah dimanfaatkan oleh sepertiga rumah tangga di pedesaan. Tahun 1992, sekitar lima juta rumah tangga menggunakan instalasi biogas sehingga biogas merupakan bahan bakar utama penduduk Cina.Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak dan manusia serta limbah pertanian. Tahun 1981 mulai dikembangkan instalasi biogas di India. Pengembangan instalasi biogas dilakukan oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional melalui program “The National Project on Biogas Development” dengan melakukan riset terhadap pengembangan model instalasi biogas. Reaktor biogas yang digunakan sama dengan reaktor biogas yang dikembangkan di Cina yaitu menggunakan model sumur tembok dan dengan drum serta dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian. Tahun 1999, sekitar tiga juta rumah tangga di India menggunakan instalasi biogas.

Teknologi biogas mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970-an. Pada awalnya teknik pengolahan limbah dengan instalasi biogas dikembangkan di wilayah pedesaan, tetapi saat ini teknologi ini sudah mulai diterapkan di wilayah perkotaan. Pada tahun 1981, pengembangan instalasi biogas di Indonesia dikembangkan melalui Proyek Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari Food and Agriculture Organization (FAO) dengan dibangun contoh instalasi biogas di beberapa provinsi. Mulai tahun 2000-an telah dikembangkan reaktor biogas skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana yang terbuat dari plastik secara siap pasang dan dengan harga yang relatif murah .

3

Net Present Value (NPV)

Posted by sellyr06 on 16 Juli 2010 in Academic |

Net Present Value (NPV) suatu proyek menunjukkan manfaat bersih yang diterima proyek selama umur proyek pada tingkat suku bunga tertentu. NPV juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh investasi. Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan.

Net Present Value (NPV) suatu proyek atau usaha adalah selisih antara nilai sekarang (present value) manfaat dengan arus biaya. NPV juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh investasi.

Kriteria kelayakan investasi berdasarkan NPV yaitu:
suatu bisnis dinyatakan layak jika NPV lebih besar dari 0 (NPV > 0) yang artinya bisnis menguntungkan atau memberikan manfaat.
Dengan demikian jika suatu bisnis mempunyai NPV lebih kecil dari 0 maka bisnis tersebut tidak layak untuk dijalankan.

4

Menghitung Risiko pada suatu Investasi

Posted by sellyr06 on 13 Juli 2010 in Academic |

Setiap usulan investasi selalu mempunyai risiko. Semakin tinggi risiko suatu investasi, semakin tinggi pula tingkat keuntungan yang diminta para pemilik modal yang menanamkan modalnya.

Ada beberapa pendekatan yang dapat dipergunakan dalam memasukan faktor risiko dalam investasi. Masalah pokok dalam pemasukan faktor risiko dalam investasi antara lain adalah dalam pendefinisian risiko tersebut. Maka, hubungan yang positif antara risiko dan tingkat keuntungan harus tetap berlaku.

Menurut Robison dan Barry (1987), risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pembuat keputusan yang didasarkan pada pengalaman. Risiko juga menunjukkan peluang terjadinya peristiwa yang menghasilkan pendapatan di atas atau dibawah rata-rata dari pendapatan yang diharapkan. Sedangkan menurut Husnan dan Muhammad (2005), risiko adalah kemungkinan penyimpangan nilai rill dari nilai yang diharapkan. Semakin besar kemungkinan penyimpangan, semakin besar risiko yang dimiliki invesasi tersebut.

Secara statistik, penyebaran nilai dari apa yang diharapkan diukur dengan deviasi standar distribusi. Semakin besar deviasi standar tingkat keuntungan maka semakin besar kemungkinan menyimpang dari rata-ratanya. Bila risiko suatu investasi bernilai nol, maka tingkat keuntungan yang disyaratkan seharusya adalah tingkat keuntungan yang tidak mengandung risiko (tingkat keuntungan bebas risiko). Tetapi bila risiko suatu investasi yang diukur dengan deviasi standar, maka teori yang berlaku adalah teori portofolio dan model perhitungan harga aktiva.

Teori portofolio dan metoda penentuan harga aktiva berguna dalam masalah penilaian investasi dengan memasukkan unsur risiko (yang diukur dengan deviasi standar) bisa dihilangkan dengan melakukan diversifikasi yaitu dengan memiliki beberapa jenis investasi. Dengan memiliki beberapa invesasi (portofolio), maka fluktuasi tingkat keuntungan akan semakin berkurang karena saling menghilangkan. Dengan demikian deviasi standar dari sekumpulan investasi akan cenderung lebih kecil daripada deviasi standar suatu investasi saja.

Menurut Weston dan Brigham (1995), terdapat tiga jenis risiko proyek yang terpisah dan berbeda satu sama lain.

– Pertama, risiko berdikari dari proyek itu sendiri, yaitu risiko yang didasari asumsi baahwa proyek tersebut merupakan satu-satunya aktiva perusahaan dan bahwa perusahaan tersebut merupakan satu-satunya perusahaan yang dimiliki para investor bersangkutan. Risiko ini diukur dari variabilitas tingkat pengembalian (laba) yang diharapkan dari proyek tersebut.

-Kedua, risiko perusahaan yaitu pengaruh dari suatu proyek terhadap risiko perusahaan tanpa mempertimbangkan diversifikasi pemilik saham dari masing-masing pemegang saham. Risiko ini diukur berdasarkan pengaruh proyek bersangkutan terhadap variabilitas laba perusahaan.

-Ketiga, risiko pasar atau beta yaitu risiko proyek tertentu yang mempunyai risiko berdikari yang tinggi namun proyek dilaksanakan karena tidak begitu mempengaruhi risiko perusahaan atau risiko portofolio dari para pemilik. Risiko ini diukur berdasarkan pengaruh proyek terhadap koefisien beta perusahaan.

Titik awal untuk menganaliss risiko berdikari dari suatu proyek adalah penentuan ketidakpastian yang terkandung dalam arus kas proyek. Tiga teknik untuk memperkirakan risiko berdikari proyek : (1) analisis sensitivitas, (2) analisis skenario, dan (3) analisis Monte Carlo.

Semoga bermanfaat :)

4

Incremental Net Benefit

Posted by sellyr06 on 13 Juli 2010 in Academic |

Analisis studi kelayakan bisnis terutama yang bergerak di bidang pertanian membedakan antara arus komponen biaya dan manfaat antara kondisi dengan (with) dan tanpa (without) bisnis. Perbedaan besaran angka kondisi tanpa dan dengan bisnis merupakan besaran sebenarnya yaitu sebagai pengaruh kondisi yang dihasilkan oleh adanya investasi baru atau kondisi yang dihasilkan oleh adanya suatu bisnis. Usaha pada sektor agribisnis seringkali diperhitungkan manfaat bersih tambahan (Incremental Net Benefit) yaitu manfaat bersih dengan bisnis (net benefit with business) dikurangi dengan manfaat bersih tanpa bisnis (net benefit without business). Hal ini dimungkinkan karena ada faktor-faktor produksi yang sebelumnya tidak digunakan atau tidak terpakai ataupun belum termanfaatkan sehingga pada saat ada bisnis apakah faktor tersebut memberikan manfaat atau tidak bagi bisnis yang dijalankan (Nurmalina et al. 2009).

semoga bermanfaat :)

2

Kriteria Investasi dalam Suatu Usaha

Posted by sellyr06 on 10 Juli 2010 in Academic |

Kriteria investasi digunakan untuk mengukur manfaat yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan dari suatu proyek..

Untuk mengetahui kriteria tersebut, digunakan analisis finansial.
Analisis finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Husnan & Muhammad 2005). Analisis finansial terdiri dari: NPV, IRR, NETB/C, dan PP.

Berikut sy jelaskan mengenai beberapa hal tersebut..

a. Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) suatu proyek menunjukkan manfaat bersih yang diterima proyek selama umur proyek pada tingkat suku bunga tertentu. NPV juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh investasi. Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan.

b. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Rasio)
Net Benefit and Cost ratio (net B/C Ratio) menyatakan besarnya pengembalian terhadap setiap satu satuan biaya yang telah dikeluarkan selama umur proyek. Net B/C merupakan angka perbandingan antara present value dari net benefit yang positif dengan present value dari net benefit yang negatif.

c. Internal Rate Return (IRR)
Internal Rate Return adalah tingkat bunga yang menyamakan present value kas keluar yang diharapkan dengan present value aliran kas masuk yang diharapkan, atau didefinisikan juga sebagai tingkat bunga yang menyebabkan Net Present Value (NPV) sama dengan nol (0). Gittinger (1986) menyebutkan bahwa IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan internal tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen.

d. Payback Period (PP)
Payback Period atau tingkat pengembalian investasi adalah salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu dapat kembali, semakin baik suatu proyek untuk diusahakan karena modal yang kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain.

nah, begitu sedikit bahasan ringkas sy mengenai hal ini…
semoga bermanfaat ^_^

2

Study Kelayakan Bisnis adalah…..

Posted by sellyr06 on 10 Juli 2010 in Academic |

Bisnis/Proyek memiliki beberapa pengertian. Menurut Gittinger (1986) mendefinisikan proyek pertanian adalah kegiatan usaha yang rumit karena menggunakan sumber-sumber daya untuk memperoleh keuntungan atau manfaat. Proyek pertanian merupakan suatu kegiatan investasi yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang kapital yang menghasilkan keuntungan-keuntungan atau manfaat-manfaat setelah beberapa periode tertentu. Proyek merupakan suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil dan yang secara logika merupakan wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan dalam satu unit.
Nurmalina et al. (2009) mendefinisikan studi kelayakan bisnis atau proyek merupakan penelaahan atau analisis tentang apakah suatu kegiatan investasi memberikan manfaat atau hasil bila dilaksanakan. Banyak peluang dan kesempatan yang ada dalam kegiatan bisnis telah menuntut perlu adanya penilaian sejauh mana kegiatan dan kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat bila bisnis dilakukan. Ibrahim (2003) mendefinisikan studi kelayakan bisnis atau proyek sebagai kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha atau proyek. Husnan dan Muhammad (2005) mendefinisikan studi kelayakan bisnis atau proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil.
Analisis kelayakan penting dilakukan sebagai evaluasi proyek yang dijalankan. Menurut Nurmalina et al. (2009) pihak yang membutuhkan studi kelayakan antara lain :
1. Investor
Investor merupakan pihak yang menanamkan dana atau modal dalam suatu proyek akan lebih memperhatikan prospek usaha tersebut (tingkat keuntungan yang diharapkan).

2. Kreditur (Bank)
Kreditur merupakan pihak yang membutuhkan studi kelayakan untuk memperhatikan segi keamanan dana yang dipinjamkan untuk kegiatan proyek.
3. Analis
Digunakan analis sebagai penunjang kelancaran tugas-tugas dalam melakukan penilaian suatu bisnis baru, pengembangan bisnis baru, pengembangan bisnis atau menilai kembali bisnis yang sudah ada.
4. Masyarakat
Hasil studi kelayakan bisnis merupakan suatu peluang untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonominan rakyat baik yang terlibat langsung maupun muncul diakibatkan adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya binis tersebut.
5. Pemerintah
Pemerintah lebih berkepentingan dengan manfaat proyek bagi perekonomian nasional dan pendapatan pemerintah atas pajak yang diberikan proyek tersebut.
Gitinger (1986) membagi aspek-aspek dalam analisis kelayakan mencakup aspek teknis, aspek institusional-organisasional-manajerial, aspek sosial, aspek komersial, aspek finansial dan aspek ekonomi. Umar (2005) membagi analisis kelayakan menjadi aspek pasar, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manejemen, aspek sumberdaya manusia, aspek finansial, aspek ekonomi-sosial-politik, aspek lingkungan industri, aspek yuridis, dan aspek lingkungan hidup. Husnan dan Muhammad (2005) membagi aspek-aspek analisis kelayakan ke dalam aspek pasar, teknis, keuangan, hukum, dan ekonomi negara. Nurmalina et al. (2009) membagi aspek-aspek analisis kelayakan ke dalam aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen-hukum, aspek sosial-ekonomi-budaya, aspek lingkungan, dan aspek finansial. Semua aspek tersebut perlu dipertimbangkan bersama-sama untuk menentukan manfaat yang diperlukan dalam suatu investasi.
Nurmalina et al. (2009) menyatakan bahwa pada proyek pertanian ada enam aspek yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan yaitu:

1. Aspek Pasar
Dari segi pemasaran kegiatan bisnis dapat diharapkan beroperasi secara sehat bilamana produk yang dihasilkan mampu mendapatkan tempat di pasaran serta dapat menghasilkan jumlah hasil penjualan yang memadai dan menguntungkan. Analisis aspek pasar pada studi kelayakan mencakup permintaan, penawaran, harga, program pemasaran yang akan dilaksanakan, serta perkiraan penjualan yang bisa dicapai perusahaan.
2. Aspek Teknis
Aspek teknis menyangkut masalah penyediaan sumber-sumber dan pemasaran hasil-hasil produksi. Aspek teknis terdiri dari lokasi proyek, besaran skala operasional untuk mencapai kondisi yang ekonomis, kriteria pemilihan mesin dan equipment, proses produksi serta ketepatan penggunaan teknologi.
3. Aspek Manajemen dan Hukum
Analisis aspek manajemen memfokuskan pada kondisi internal perusahaan. Aspek-aspek manajemen yang dilihat pada studi kelayakan terdiri dari manajemen pada masa pembangunan yaitu pelaksana proyek, jadwal penyelesaian proyek, dan pelaksana studi masing-masing aspek, dan manajemen pada saat operasi yaitu bentuk organisasi, struktur organisasi, deskripsi jabatan, personil kunci dan jumlah tenaga kerja yang digunakan. Aspek hukum terdiri dari bentuk badan usaha yang akan digunakan, jaminan-jaminan yang dapat diberikan apabila hendak meminjam dana, serta akta, sertifikat, dan izin yang diperlukan dalam menjalankan usaha.
4. Aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya
Aspek sosial terdiri dari pengaruh proyek terhadap penambahan kesempatan kerja atau pengurangan pengangguran. Aspek ekonomi memberikan peluang peningkatan pendapatan masyarakat, pendapatan asli daerah (PAD), pendapatan dari pajak, dan menambah aktivitas ekonomi. Perubahan dalam teknologi dalam bisnis dapat secara budaya mengubah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat.

5. Aspek Lingkungan
Terdiri dari pengaruh proyek terhadap terhadap lingkungan apakah dengan adanya bisnis mencipkatan lingkungan semakin baik atau semakin rusak.
6. Aspek Finansial
Pengaruh finansial terhadap proyek.
Tujuan dilakukannya analisis proyek adalah 1) untuk mengetahui tingkat keuntungan yang dicapai melalui investasi dalam suatu proyek, 2) menghindari pemborosan sumber-sumber, yaitu dengan menghindari pelaksanaan proyek yang tidak menguntungkan, 3) mengadakan penilaian terhadap peluang investasi yang ada sehingga kita dapat memilih alternatif proyek yang paling menguntungkan dan 4) menentukan prioritas investasi (Gray et al. 1992).

Copyright © 2010-2017 MOCINTAKITA All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.4, from BuyNowShop.com.